Rabu, 15 November 2017

Dulu pada awalnya aku adalah anak yang suka bermain dengan teman - teman di sekitar. Dulu aku suka sekali main bola, kelereng, dan kejar - kejaran. Aku bermain bola dengan bola bekas air mineral gelas, bola itulah yang kami mainkan bersama. Aku merasa sangat hebat sekali , banyak gol yang telah aku ciptakan. Bahkan gol sekelas Zidane (pemain bola yang terkenal waktu itu) pernah aku lesakkan ke dalam gawang lawan. Iya, gawang dengan sandal jepit. kami lakukan itu di depan kelas. Kelas yang hanya 2 kelas saja. Kelas 1 dan Kelas 2 Madrasah Ibtida'iyah.

Itulah kisah yang membuatku merasa bangga sampai sekarang, pernah lagi aku main kelereng. aku main kelereng dengan satu teman karibku. Ia mengajakku sepulang sekolah untuk duel bermain kelereng di depan kelas. pada saat jam istirahat aku membeli modal kelereng sebanyak empat buah dan itu dengan harga yang sangat murah yakni 100 rupiah.

Kemudian di sore harinya aku mulai bersiap untuk menandingi temanku ini yang telah memiliki modal kelereng sebanyak 30 buah. aku dengan sigap mengincar kelerengnya dengan presisi. Cettaass! bunyi kelerengku menabrak kelerengnya dengan keras. dengan kedua tangan di depan mata lalu terdapat kelereng di tengahnya itulah cara yang kupakai untuk membidik kelerengnya.

Dengan sengitnya aku bermain, sempat kalah beberapa kali namun akhirnya aku mendapatkan 20 kelereng darinya. ini adalah pencapaian yang paling membanggakan waktu itu. dengan hanya 4 kelereng aku bisa mendapatkan 20 kelereng. dia merasa gusar dan ingin terus bermain denganku.

*
namun apa daya hal ini sudah dilarang oleh ibu kepala sekolah, karena bisa dikatakan judi. jadi aku hentikan permainan ini karena aku rasa juga permainan ini bisa merugikan dan bisa menguntungkan salah satu pemjain. bisa menjadi titik awal perjudian dengan saling memiliki kelereng teman yang kalah bermain. pelajran ini tak akan aku lupakan karena sampai sekarang aku menjauhi judi dan semacamnya.
*

kelanjutan dari permainanku dengan temanku tadi ini berlanjut sangat seru , sampai aku lupa waktu untuk pulang. namun temanku ini tetap ingin melanjutkan pertandinganku ini. sampai - sampai aku merasa ada yang aneh di dalam pertuku. dari awal permainan sampai sekarang aku terus jongkok dan jongkok. agar kelereng temanku bisa pas terkena tembakanku jongkok harus kulakukan, namun ada sesuatu yang tidak beres kembali terasa di perutku.

Brrrtt Brrt.. aku kentut. "Bro, udah ya aku sakit perut nih" aku berkata agar segera menyudahi permainan. dia tidak sedikit mengurangi niatnya untuk mengalahkanku. permainan pun terus berlangsung. sampai pada akhirnya sakit perutku ini tak tertahankan. aku pun berlari untuk segera pulang ke rumah. aku pun kaget kudapati kotoran sudah berada di celana ku. berwarna kuning dan lengket. itulah pengalaman yang tak terlupakan, iya pengalaman keciprit.

--

ssstt, bro nomor dua apa jawabannya?, kata temanku febri. Aku merasa bingung apa yang harusku lakukan. aku kemudian meneruskan untuk mengerjakan soal. "ssstt apa bro jawabannya? 1 soal 200 rupiah bro", kini ia menawari dengan imbalan yang lumayan. Aku pun terpikat dengan tawarannya. Kuberikan jawabanku kepadanya. dan aku mendapat upah 1000 rupiah. hehe sesampainya bel berbunyi ia berterima kasih kepadaku. aku pun segera membeli es moni yang segar di siang hari itu. Namun aku merasa berat, aku menjual kejujuranku kepada orang lain dengan harga yang murah. aku merasa tidak enak dengan hasil memberi jawabanku ini. namun bagaiman lagi, aku tidak punya pilihan.

Aku tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, karena sekarang aku sadar bahwa perbuatan itu adalah bibit kejahatan. Iya kejahatan tindak korupsi. Ketidakjujuranku ini mendapatkan upah, sama halnya dengan pejabat - pejabat rakus di indonesia sekarang. asal ada uang proyek dimana - mana bisa berjalan mulus tanpa hambatan. apalah dayaku ini seorang lulusan sarjana yang baru bekerja di kantoran. harusnya aku beraksi, entah kapan nanti.

Aku berusaha untuk memberi tahu temanku tadi untuk tidak melakukan hal demikian lagi. aku akan membantumu untuk belejar. namun apa daya ia tidak bisa mengerjakan soal lagi. terpaksa aku berikan jawabanku. Aku takut tidak memiliki teman kalau tidak melakukan hal tersebut. semua teman pun juga begitu. merasa tidak suka kalau ada yang tidak membagikan jawabannya.

--

dari kisah tentang keciprit kemarin aku agak menjadi tahu kalau perut sudah memberikan sinyal, maka aku haru segera menjawab respon tersebut. Tidak lagi aku menunda - nunda menjawab sinyal itu. Karena tidak baik juga bagi kesehatan menahan BAB.

Suatu hari aku mendapati salah seorang guru memberikan pengumuman - pengumuman. pengumuman yang pertama, seluiruh siswa akan mengikuti ujian akhir semester bulan depan dan pengumuman yang lain aku lupa namun pengumuman ini tidak aku lupakan yaitu akan diadakannya lomba membaca puisi. aku merasa tertantang untuk mengikutinya. karena akan mendapatkan hadiah yang menarik.

aku terus mencari ibu di rumah sepulang sekolah. aku ingin dicarikan puisi untuk kujadikan teks puisi pada saat lomba. ibu pun dengan senang hati ikut membantu proses persiapan lomba membaca puisi ini. akhirnya dituliskannya teks itu di buku tulisku.

terus aku mencari tahu bagaimana cara membaca puisi yang baik dan benar. aku pun mulai berlatih membaca puisi dengan penghayatan terhadap teks puisi yang ada. aku baca berulan - ulang kali. aku baca dari baris atas sampai akhir puisi. setelah penghayatan lumayan aku kuasai , aku pun beralih untuk melatih intonasi membaca puisi ku. aku mulai dengan nada pelan dan santai, kemudian disalah satu kata aku pun menaikkan nada dan membaca sambil menaikkan besarkan dadaku. aku membesrakan suaraku. kemudian di akhir kalimat kuturunkan kembali nadaku itu hingga berakhir kata dalam teks puisi.

suatu hari kemudian datanglah dimana hari lomba membaca puisi diadakan. setelah kami melaksanakan ujian semester tidak banyak kegiatan belajar mengajar, yang ada malah banyak jam kosong dan teman - teman dengan riang bermain di setiap sudut sekolah. tak lama kemudian ibu guru menyiapkan panggung di tengah lapangan kecil di depan kelas. kumudian juga ia siapkan sound system untuk mengeraskan suara.

Tak sadar waktu lomba dimulai, ibu guru akan memanggil nama siswa yang akan maju. "Erwin", nama temanku dipanggil duluan, aku sudah gugup menunggu pemanggilan nama peserta lombai itu. aku beruntung tidak maju pertama. ketika temanku mulai membaca puisinya, aku langsung takjub dengan metode yang ia terapkan di dalam membacakan puisi. dengan penghayatan dan intonasinya ia mampu mendapatkan tepukan keras dari para penonton. Nama kedua pun dipanggil, "Mimif", iya akhirnya giliranku, aku maju dengan elegannya ke atas panggung. Aku mulai baca puisiku sesuai dengan metode latihanku , karena aku yakin akan mengalahkan temanku tadi. dengan bangganya.

Keesokan harinya, aku mendapati aku tidak mendapat hadiah itu, aku sedih sekali karena sudah memberikan usaha yang maksimal namun belum beruntung. Pelajaran ini aku ambil hikmahnya sekarang. Setidaknya kita pernah mencoba dan belajar untuk menggapai sesuatu, meskipun hasilnya jauh dari harapan. tidak apa, pengalaman itu sangat berharga.

bersambung.

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!